Sejarah membuktikan Reformasi/Revolusi selalu dimulai dari kelas menengah. Pernyataan tersebut 90% menurut saya valid. Paling tidak sejak kesadaran kebangsaan mulai merebak di nusantara ini semua penggerak dan pencetusnya adalah kaum terpelajar dari golongan kelas menengah. Mulai Budi Utomo, Sumpah pemuda sampai terakhir reformasi 1998 semua dimotori golongan terpelajar kelas menengah.
Namun mengapa pasca 1998 seakan aktivisme sosial kelas menengah ini mengalami kemandekan? Contoh paling gampang adalah kemarin gerakan ‘Reformasi di korupsi’ dan ‘Tolak Omnibus Law’ yang tak satu pun dari gerakan ini yang berhasil. Tidak satu pun tuntutan mereka dicapai meski paling tidak ada 5 mahasiswa yang mati, ratusan luka-luka dan puluhan ditangkap dalam aksi tersebut.
Mengapa aktivisme mereka melempem pasca 1998, jika mengutip Poulantzas (1977, 1975), “kelas menengah semacam terombang-ambing di antara pertarungan dua kelas fundamental. Akibatnya, kelas menengah gak punya kepentingan politik jangka panjang buat diri mereka sendiri. Kondisi ini kemudian berdampak pada level ideologis”.
Jika berdasar pernyataan Poulantzas, mereka “anti kapitalis” tapi pro kemapanan, nah bingung kan? Kebanyakan mereka “anti orang kaya/borjuis/penguasa” namun menyimpan ketakutan kalau transformasi radikal terjadi (kalau kata coach² mativator itu enggan beranjak dari zona nyaman). Mereka anti pemerintah tapi karena mereka juga pemilik aset, mereka takut jika terjadi perubahan radikal mereka kehilangan aset. Dengan kata lain mereka menginginkan perubahan namun tak mau merubah sistem yang sudah mapan dan aman, hal ini berakibat tuntutan mereka hanya sebatas distribusi kekuasaan politik saja. Alih-alih menuntut perubahan sistem sosial mereka malah menginginkan promosi sosial. Udah banyak dong berita soal politikus muda yang bikin partai atau merasa cukup masuk ke sistem menjadi stafsus atau komisaris. Berjuang dari dalam sih kata mereka.
Lalu kebanyakan mereka terjebak dalam dunia kerja yang mengurung mereka dalam kompetisi pasar. Hal ini membuat mereka makin menjadi individualistis ditengah kompetisi kerja dan pasar bebas (terutama untuk tenaga kerja asing dan lenyapnya batas-batas teritori akibat kemajuan sains dan teknologi). Alhasil mereka lebih menuntut Good Ol’ Meritocracy (baca Rise of The Meritocracy – Michael Young ) yang malah memperparah ketidak-adilan ketimbang kesetaraan dalam demokrasi.
Yang paling anomali adalah sesinis-sinisnya mereka terhadap pemerintah, mereka cenderung memuja kekuasaan. Kelas menengah percaya bahwa posisi negara (harusnya) netral. Dalam situasi penuh pergolakan sosial, mereka melihat hanya negara yang memiliki kemampuan untuk mengatasi krisis ekonomi-politik. “Kalau ada yang salah berarti orangnya, bukan sistemnya”. Akibatnya mereka lebih sering mengkritik individu (penguasa/borjuis) ketimbang mengkritisi sistem yang mengakibatkan normalisasi kesalahan-kesalahan tadi.
Di masa pandemi sekarang ini budaya kritis dan aktivisme progresif makin subur. Kapitalisme mulai kelihatan belangnya, kelas pekerja makin menderita. Tinggal meluruskan sedikit yang bengkok harusnya kita bisa mengulang reformasi dengan ‘benar’.